Playback, Panggung Kepura-puraan

Saya bukan penonton tayangan-tayangan musik di televisi seperti Inbox atau Dahsyat. Tapi, jika Anda penonton setia tayangan-tayangan semacam itu, Anda tentu sudah sadar betul bahwa sebagian besar artis yang tampil pada acara itu tidak bermain secara live (langsung). Umumnya, mereka tampil pura-pura live atau playback alias menirukan musik yang keluar dari rekaman yang diputar. Itulah alasan mengapa saya tak begitu minat menonton tayangan-tayangan semacam Inbox, Dahsyat dan lain-lain.

Fenomena seperti itu sesungguhnya bukan barang baru. Namun, saya baru tersadar bahwa fenomena playback atau tampil pura-pura live itu makin tren, terutama di televisi. Seperti sesuatu yang lumrah jika melihat sang pesohor ‘menipu’ penggemarnya dengan pura-pura bernyanyi padahal ia sedang membisu. Atau, seorang drummer pura-pura beraksi menggebuk drumm padahal suara yang keluar bukan dari perangkatnya, melainkan bersumber dari sound system yang sudah ditata sedemikian rupa.

Sebagian artis tampak cukup menikmati konsep manggung seperti itu. Sebab, mereka tak perlu repot-repot latihan berjam-jam di studio agar bisa tampil sempurna di atas panggung nantinya. Pun tak perlu khawatir bakal salah menggunakan chord atau suara fals saat di atas pentas, lantaran semua urusan telah dipasrahkan pada mesin yang memutar rekaman. Dan, honor manggung pun sudah di depan mata. Sangat sederhana. Mungkin akan sedikit ribet saat mereka harus memilih kostum agar terlihat makin keren di mata penonton atau pun penggemarnya.

Ari Lasso mengistilahkan konsep manggung semacam itu sebagai sebuah sikap fleksibilitas agar bisa bertahan di industri musik. “Tentunya (saya) lebih suka (tampil) live, tapi begitu banyak hal di industri musik Indonesia ini yang membuat saya dan teman-teman harus bisa fleksibel tanpa mengorbankan sisi kejujurannya,” ujar bekas vokalis Dewa 19 itu, dikutip dari Detikhot.com, 12 April 2010.

Fleksibel? Sepertinya terdengar klise. Apalagi ditambah kalimat “agar bisa bertahan…”. Entah apa yang ada di benak Ari atas sikap ke-fleksibel-annya itu. Saya hanya menduga (kuat), pelantun tembang Rahasia Ilahi itu belum siap jika harus kehilangan popularitasnya sehingga bersedia tampil pura-pura. Bisa jadi pula, alasan “agar bisa bertahan…” itu maknanya adalah bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan di industri musik. Peduli amat dengan kreativitas berkesenian yang menuntut kejujuran, menipu publik (musik) dengan kepura-puraan pun tak jadi soal.

Tapi, tak semua musikus punya sikap serupa Ari. Grup band Padi menolak mentah-mentah tawaran tampil playback di televisi. Bahkan, grup band asal Surabaya itu lebih memilih bubar jika harus dipaksa bermain playback. Bagi mereka, hal itu sama saja dengan menipu. Dan, bermain live adalah pembuktian kejujuran mereka dalam bermusik. Hal itu tak bisa ditawar sekedar untuk memeriahkan acara musik yang tengah menjamur di televisi. (sumber: Detikhot.com, 25 Maret 2010)

Sikap Padi cukup bisa dipahami. Totalitas dalam bermusik, salah satu ukurannya adalah berani tampil live, bahkan jika dituntut spontan atau tanpa persiapan sekali pun. Kemungkinan tampil tak sempurna, misal, salah menggunakan chord, suara sang vokalis fals, mikrofon mati, suara gitar tak terdengar, atau pun ‘kecelakaan-kecelakaan’ lain, pasti ada. Itu bagian dari risiko yang justru merupakan tantangan tersendiri. Terkadang, musikus pun akan merasa lebih bebas bereksplorasi dan mencipta inovasi-inovasi baru justru saat mereka di atas panggung.

Keberadaan pertunjukan konser bukan semata merupakan sarana promosi, melainkan juga menjadi media yang efektif untuk menunjukkan kapasitas dan kualitas bermusik sang artis. Seorang penyanyi atau grup band yang berani bermain live dalam sebuah konser, berarti telah siap dengan risiko dilempar botol atau pun sandal saat mereka tampil mengecewakan. Dan, jika mereka mampu mengatasi risiko itu, bukan hanya acungan jempol, berbagai penghargaan pun sudah siap menanti.

Meski demikian, sikap seperti yang ditunjukkan Padi itu tak serta-merta diamini para musikus lainnya. Tidak sedikit di antara para seniman musik di negeri ini yang lebih memilih cara gampang-gampangan itu, sekedar demi popularitas atau pun alasan finansial. Ari Lasso saja menyebut sikap Padi itu sebagai ‘pahlawan kesiangan’. Hegemoni industri musik yang begitu kuat, rupanya telah membikin para musikus tak punya banyak pilihan.

Stasiun televisi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari industri musik, tak salah kalau disebut biang kerok dalam perkara ini. Merekalah yang mula-mula memelopori pertunjukan panggung kepura-puraan itu. Alasan yang selalu menjadi andalan mereka adalah masalah teknis dan terbatasnya anggaran.

Alasan pertama yang dimaksud adalah tingkat kerepotan yang cukup tinggi untuk bisa menampilkan sekian banyak band/penyanyi dengan durasi yang terbatas, seperti halnya pada tayangan Inbox (SCTV), Dahsyat (RCTI), Kissvaganza (Indosiar) atau Derings (Trans TV). Sementara, persiapan sebuah band untuk menata sound system-nya, atau dikenal dengan istilah sound check, lazimnya bisa memakan waktu 2-3 jam. Maka, solusi satu-satunya adalah playback. Alasan ini bisa dimaklumi lantaran urusan memang menjadi cukup ribet jika mesti sound check untuk 3-4 grup band/penyanyi per episode.

Namun demikian, kerumitan itu bukan berarti harus menutup sepenuhnya peluang bagi artis yang akan tampil untuk bermain secara live. Hal yang terjadi justru seolah tak ada pilihan kecuali: mau tampil pura-pura atau tidak sama sekali.

Alasan kedua sangat klasik. Anggaran produksi, yang konon rendah, juga membuat pihak stasiun televisi tidak bisa menyediakan secara rinci dan lengkap peralatan sound system untuk setiap grup band/penyanyi. Artinya, channel yang diperlukan juga banyak, berarti membutuhkan mixer yang besar. Singkat kata, biaya produksi pun bertambah. Tim produksi yang diperlukan juga bertambah, yang berarti tambah biaya pula.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa alasan anggaran atau biaya itu adalah alasan yang tak masuk akal atau pun sebaliknya. Begini. Sumber utama pendapatan televisi adalah iklan. Dan, tayangan televisi di pagi hari yang paling sukses menggaet iklan adalah tayangan musik semacam Inbox, Dahsyat, Kissvaganza atau Derings itu. Tarif iklan pada masing-masing stasiun televisi berbeda-beda. Namun, rata-rata pada kisaran Rp 10-13 juta per slot (satu slot rata-rata 30 detik). Sebagai perbandingan saja, Dahsyat bisa mengantongi 80 slot per episode. (sumber: majalah Kontan edisi Minggu II, Februari 2009)

Anggap saja Dahsyat mematok harga iklan per slot Rp 10 juta. Itu artinya, Rp 800 juta sudah dikantongi Dahsyat per episodenya. Sementara, biaya produksi per episode, konon, berkisar pada angka Rp 30-50 juta. Lumayan juga untungnya. Hitungan gampang-gampangan itu kalau tarif iklannya Rp 10 juta per slot x 80 slot per episode. Nah, kalau lebih dari itu, tentu lebih lumayan lagi keuntungannya. Masih mau memakai alasan anggaran yang terbatas? Pikir lagi!

Tapi, sudahlah! Berapa pun tarif iklan atau keuntungan yang didapat pihak stasiun televisi, hal yang pasti adalah publik musik Tanah Air telah cukup lama disuguhi pertunjukan palsu alias panggung musik pura-pura. Di saat yang sama, masyarakat juga telah diperdaya operator seluler melalui produk RBT (ring back tone) yang menyesatkan itu. Kuping masyarakat di negeri ini pun telah sedemikian rupa dipaksa mendengarkan musik yang seragam serta cinta-cinta melulu.

Bagaimana dengan para musikus? Sudah sepatutnya mereka berpikir ulang jika masih berminat berpura-pura, membohongi dan menipu publik atau pun penonton dan penggemarnya melalui aksi playback. Sebab, mereka tak sekedar punya hak untuk berkreasi secara bebas, tetapi juga memiliki kewajiban moral mendidik masyarakat lewat sajian musik yang jujur dan tentu berkualitas.

7 Response to "Playback, Panggung Kepura-puraan"

pelangi anak mengatakan...

waduh mau cari uang aja kok pake nipu segala. apapun alasannya tetep aja namanya boong ke publik. menghibur dengan kebohongan.

arief mengatakan...

@pelangi anak -> Begitulah sekarang. Kalo ga pake boong ga makan. Makin banyak orang yang memilih boong sekedar untuk cari uang.

ceritadian mengatakan...

sing penting ono luna maya.....sluurrrrppppp

Annisa mengatakan...

kalau gak salah di beberapa negara di luar negeri ini akan dikenakan denda.

arief_delarocha@yahoo.co.id mengatakan...

@annisa -> Maksudnya gimana?

Anonim mengatakan...

Memang PADI yg bener2 Idealis. siip...

Prima Aquino mengatakan...

Yang penting mnghibur, wong kita tinggal nonton aja kok ribut sendiri. Klo pngen luve coba buat acara sendiri.

Posting Komentar