Ideologi Tak Pernah Mati

Media Indonesia edisi Selasa, 28 April 2009, menurunkan editorialnya tentang kecenderungan tamatnya ideologi. Fenomena koalisi antar-parpol menjelang Pemilu Presiden yang dijalin tak berdasarkan kesamaan ideologi disebut merupakan bukti paling nyata. Hal serupa terlihat pada Pemilu Legislatif yang digelar pada 9 April lalu.

“Gejala umum yang muncul ke permukaan adalah pengelompokan parpol-parpol dalam koalisi tidak lagi terikat kepada kesamaan ideologi. Partai-partai atau tokoh-tokoh yang berbeda secara ideologis ternyata tidak memiliki hambatan berkoalisi untuk mengusung kepentingan yang sama.” Demikian ditulis Media Indonesia. Kesimpulan atas editorial tersebut mungkin terilhami tesis "The End of Ideology" yang dikemukakan Sosiolog terkemuka dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Daniel Bell, tahun 1962. Tesis itu menjelaskan realitas bahwa ideologi mati karena keinginan orang-orang untuk mencapai titik ekstrem kebesaran ideologi ternyata tidak tercapai.

Sebagian kalangan memercayai tesis tersebut. Dalam beberapa kesempatan diskusi, tak jarang pula diperbincangkan fenomena minimnya peran ideologi dalam proses politik di Tanah Air, terutama sekali dalam Pemilu. Pemilih yang menggunakan hak pilihnya disinyalir tak lagi mendasarkan pilihannya menurut ideologi yang diyakini. Demikian pula sebaliknya. Partai politik (parpol) terlihat tak lagi “menjual” ideologi untuk menggaet simpati pemilih. Tapi, benarkah fenomena tersebut dapat dikatakan bahwa ideologi telah mati?

Sebelum ditemukan jawabannya, sebaiknya diketahui terlebih dahulu pengertian ideologi itu. Raymond William (1985) bertutur, tak ada batasan pasti tentang istilah ideologi. Bahkan, katanya, dalam tradisi marxis—sebuah tradisi yang paling kaya mengenai ideologi—kata ideologi memiliki tiga pengertian umum: sistem khas keyakinan-keyakinan suatu kelompok atau kelas tertentu; sistem keyakinan ilusif—gagasan-gagasan atau kesadaran palsu yang dikontraskan dengan pengetahuan ilmiah, proses umum produksi makna dan gagasan.

Namun demikian, melihat pengertian ideologi seperti diungkapkan beberapa tokoh, kiranya cukup membantu. Ada banyak pengertian ideologi. Beberapa di antaranya, diungkapkan Gregory Brossman. Menurut dia, ideologi adalah kumpulan ide yang merupakan: (1) refleksi atas kondisi sosial tertentu; (2) cita-cita sosial yang hendak diperjuangkan atau dipertahankan.

Ali Syariati menulis lain. Ideologi, katanya, mengacu pada keyakinan yang dipeluk oleh kelompok atau kelas sosial tertentu dengan latar sosial dan kultural tertentu. Faktor yang paling menentukan seseorang memeluk ideologi, tulis dia, adalah keyakinan. Keyakinan merupakan faktor yang paling pokok.

Penulis lebih menyukai menggunakan pengertian pertama. Jika digunakan pada konteks perpolitikan nasional, pengertian tersebut dapat dimaknai bahwa ideologi adalah hasil refleksi atas situasi sosial dan politik. Ia berbentuk seperangkat keinginan atau cita-cita yang hendak diperjuangkan atau harus dipertahankan.

Dari pengertian tersebut, dapat dipahami cukup jelas bahwa tak mungkin ada suatu bangsa, masyarakat atau kelompok tertentu yang tak memiliki ideologi yang merupakan cita-cita yang hendak diperjuangkan atau harus dipertahankan itu. Demikian pula halnya dengan parpol. Tampak atau tidak tampak, sedikit atau banyak, ia mesti memiliki ideologi. Sebab, hanya dengan ideologi itu, ia bisa memperjuangkan atau bahkan mempertahankan visi dan misinya.

Ideologi ada karena ada cita-cita atau keinginan. Cita-cita atau keinginan itu ada karena ada manusia yang memikirkan tentang sesuatu diidealkan menurut dia. Jika dikatakan ideologi telah mati atau tamat riwayatnya, maka di saat yang sama, tamat pula riwayat manusia. Jika ada parpol yang disebut tak berideologi, maka saat itu pula parpol tersebut telah mengalami kematian. Meski demikian, ideologi itu sendiri tak pernah mati karena manusia selalu berusaha merefleksikan situasi sosialnya untuk kemudian dia wujudkan hasil refleksi itu dalam sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan atau dipertahankan keberadaannya.

Bagaimana dengan fenomena parpol yang cair yang berkoalisi tanpa didasarkan pada kesamaan ideologis? Bagi penulis, hal itu adalah fenomena sesaat tak mungkin berlangsung selamanya. Kenyataan tersebut tentu tak dapat dikatakan sebagai fenomena tamatnya riwayat atau kematian ideologi. Kepentingan pragmatis lebih mengemuka pada Pemilu kali ini, yakni tidak lebih dari sekedar proses bagi-bagi kekuasaan. Dapat pula dikatakan bahwa hal itu merupakan strategi gabungan beberapa parpol satu untuk melawan atau menyaingi gabungan parpol lainnya.

Di kubu koalisi Partai Demokrat (PD), misal. Koalisi yang mengusung Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden (capres) itu diisi Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bulan Bintang dan Partai Damai Sejahtera—belakangan disebut-sebut juga Partai Persatuan Pembangunan bakal segera bergabung. Empat parpol pertama, sama-sama berbasis massa Islam, namun berbeda ideologi. Parpol yang disebut keempat, sangat jauh berbeda karena ia merupakan parpol berbasis massa Kristen. Penulis sangat yakin bahwa cerita koalisinya pasti sangat berbeda jika PD tak mencapreskan Yudhoyono yang merupakan Presiden RI dan sejak awal disebut-sebut tokoh paling populer dibanding tokoh lainnya.

Fenomena cairnya ideologi parpol juga tidak terlepas dari pengaruh ketokohan yang sangat dominan. Akibatnya, ideologi menjadi dikesampingkan—setidaknya untuk sementara waktu. Sebut saja sebagai contoh: Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Wiranto, Prabowo Subianto. Mereka merupakan tokoh partai yang perannya sangat dominan di dalam partainya masing-masing. Beberapa ada pula yang nama tokohnya jauh lebih dikenal dibanding partainya.

Tak hanya itu. Perkembangan politik nasional beberapa tahun belakangan menunjukkan bahwa telah terbangun jarak yang cukup jauh antara parpol dengan rakyat atau bahkan dengan konstituennya sendiri. Dapat dikata, parpol bekerja hanya lima tahun sekali, tepatnya menjelang dan saat Pemilu. Ingatan rakyat atau konstituen parpol, terbangun hanya saat Pemilu. Akibatnya, proses identifikasi diri mereka (rakyat) pada parpol yang dipercaya dapat memperjuangkan nasibnya, terjadi hanya saat itu, selebihnya mereka lupa. Akibatnya pula, mereka melupakan ideologi itu dan lebih mengingat tokoh.

Namun, sekali lagi, fenomena tersebut adalah fenomena sesaat dan tak akan berlangsung selamanya. Pada titik tertentu, parpol akan kembali melihat betapa pentingnya ideologi itu. Pada titik tertentu pula, mereka akan kembali merefleksikan situasi sosialnya untuk dirumuskan dalam sebuah ideologi. Ideologi itu, pada akhirnya nanti, akan menjadi ruh yang menggerakkan parpol.

Pada saat itu, seperti dikatakan Syariati, ideologi akan menjadi praksis yang mencakup strategi, taktik, tahapan-tahapan, metode-metode gerakan untuk mengubah realitas sosial sesuai cita-cita ideologisnya. Di saat yang sama, ideologi memberi energi, inspirasi, keyakinan, dorongan, cita-cita penganutnya sebagai dasar perubahan dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkannya.

No Response to "Ideologi Tak Pernah Mati"

Posting Komentar