Jangan Malu Mengklaim!

Oktober tahun lalu, sebuah partai politik yang sedang naik daun di negeri ini, meluncurkan iklan politiknya di sejumlah televisi nasional. Protes bermunculan lantaran dalam iklan tersebut ditampilkan sosok ulama, pahlawan nasional, yang juga panutan sebagian kalangan muslim. Intinya, parpol pembuat iklan yang sarat muatan politis itu dinilai “mengklaim” sosok ulama tersebut adalah “miliknya”.

Belakangan, muncul iklan politik yang topik besarnya seputar klaim mengklaim. Pembuatnya adalah parpol penguasa. Dalam iklan politiknya, ditampilkan prestasi tokoh utama parpol tersebut yang berhasil dalam penyelesaian sejumlah konflik di Tanah Air. Konflik Ambon, Poso, Aceh (Gerakan Aceh Merdeka), semua selesai diklaim sebagai jasa tokoh utama parpol tersebut.

Parpol pemerintah lainnya juga tak mau kalah. Mereka, dalam iklan politiknya pula, mengklaim bahwa penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan prestasi tokoh utama parpolnya. Disebutkan bahwa sang tokoh yang kini menjadi orang nomor satu di Indonesia itu telah tiga kali menurunkan harga BBM. ”Diturunkan. Diturunkan. Diturunkan lagi.” Demikian diucapkan sang bintang iklan tersebut.

Memang, tak ada undang-undang atau peraturan yang melarang hal tersebut. Urusan klaim mengklaim dalam politik tak akan berisiko tinggi layaknya mengklaim sebuah hak cipta. Toh, sesuatu yang diklaim pun tak pernah dipatenkan milik seseorang atau kelompok tertentu. Momentum menjelang pemilihan umum seperti sekarang, semua hal bisa dan wajar jika dijadikan komoditas politik yang laku untuk diperdagangkan.

Tentu, bukan di situ masalahnya. Ini semata persoalan moral atau etika. Dan, hal itu sejatinya jauh lebih penting dari segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum. Saya dan Anda pun tak mungkin rela jika pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama kemudian hasilnya diklaim sebagai hasil kerja orang lain. Seperti dalam banyak kasus, klaim mengklaim itu justru melemahkan ikatan kebersamaan. Akibatnya, tak ada lagi komitmen, tak ada lagi kerja sama, tak ada lagi tanggung jawab bersama.

Bangsa dan negara ini tidak didirikan di atas klaim satu kelompok atau golongan tertentu. Kemerdekaan diraih atas kerja sama dan persatuan semua komponen bangsa. Saya sangat tidak yakin Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa bertahan hingga kini jika, misal, kalangan muslim mengaku paling berjasa atas berdirinya negara ini. Saya pun sangat yakin, para pendiri negeri ini tak pernah mengajarkan untuk saling mengunggulkan diri maupun kelompoknya.

Mungkin, para elit politik itu telah mengambil pelajaran dari tingkah negeri tetangga yang telah mengklaim sebagian tradisi dan kebudayaan dari negeri ini. Klaim atas sebuah pulau yang dilakukan negeri tetangga yang serumpun itu pun jadi inspirasi. Pikir mereka, mengklaim sama sekali tak berisiko. Tak ada hukum yang dapat menjerat perbuatan klaim mengklaim terkait persoalan politik. Paling banter cuma diprotes, tidak lebih. Jadi, janganlah malu mengklaim!

23 Response to "Jangan Malu Mengklaim!"

bagus pras mengatakan...

saya mengklaim bahwa postingan ini bagus banget.

rio 9 mengatakan...

hati2 juga ah, lidah kan lebih tajam dari pedang.. (tapi kok mulutnya gak sobek ya, hihihi..)

www.rio-sembilan.blogspot.com

cak Dh1k4 mengatakan...

sepi ing gawe rame ing pamrih....

budiono darsono mengatakan...

Semua kecap No 1. Gak ada kecap No 2. Padahal kalau ada Kecap No 2 malah unik. Zaman ngecap...ngecap terus sampek itemmmmm...!!!!

belly wijaya mengatakan...

semakin bulat utk ambil sikap golput, melihat cara berpromosi mereka yg sangat tidak cerdas. Bisa dibayangkan setelah berkuasa nanti hanya bisa bersilat lidah tanpa mau membanting tulang, padahal rakyat tinggal tulang belulang, hhhh...

*Sorry nie kang, jarang BW, lagi... ya geto deh.. :)

tukyman mengatakan...

hari sabtu gak ada gawean, akhirnya aku ya ngeblog jalan satu satunya :)
+ ninggalin bekas

cak win mengatakan...

Emm memang begitulah :D

Hp Pulsa mengatakan...

Gak ngerti aku boss
Yang penting damai2 aja wes

kw mengatakan...

jadi makin eneg nih...
:)

ABDEE NEGARA mengatakan...

urusan politik memang aneh... kadang berbau sangat busuk... entahlah..!! mungkin ini budaya politik di indonesia... berdoa saja, smoga para politisi negeri ini ngga kualat dan mampus termakan janji2 mereka.. Amin..

SLANKERS COMMUNITY mengatakan...

Adukan segera politisi busuk........

nita mengatakan...

seharusnya ada peraturan etika berkampanye yg di dalmnya termasuk urusan klaim mengklaim itu. pd saat kampanye di US juga sering terjadi saling klaim bhw sukses yg terjadi pd saat itu adl hasil karya republikan atau demokrat. bedanya, setau saya gak pernah terjadi klaim thd pahlawan/tokoh nasional

Cebong Ipiet mengatakan...

*snif sniff* mengendus endus bau politik...
ndak etis yak iklannya dan prakteknya

tikno mengatakan...

kalau yang jadi bintang iklan adalah orang politik mungkin saya maklum. Yang saya heran kalau sosok / citra agama juga dijadikan bintang iklan.

munawar am mengatakan...

kalau hukuman dari klaim tersebut nantinya berupa Golput bagaimana Mas Arif?

srex aswinto mengatakan...

Biar ajalah... kampanye model gitu memang ditujukan buat kalangan dg 'intelektualitas rendah' !
Yg gak butuh acara talk show debat, analisa statistik yg rumit2....
Sasarannya udh segmented mas....
Buat kita2 bukan itu jatahnya....

Nyante Aza Lae mengatakan...

no komeng slain spakat...terus smangat broo.!

nirmana mengatakan...

hahaha...artikelnya menohok banget tuh, andai ku bisa share artikel ini ke istana negara pasti akan kulakukan sekarang!!

SEDONA mengatakan...

visiting u with a smile:-)

suryaden mengatakan...

ha..ah telat gara2 rss yang nggak nyantol2, ketinggalan kopi segelas nih... asyem..
uapik mas, menohok... tapi yang ditohok nggak kerasa karena udah mati rasa hati dan otaknya, dan kalo diserang kelitnya pasti ke EO atau PH pembuat iklannya... maklum ono rego ono rupo.. kekekke...

pancen ngawur dan nggak punya malu, lah yang kerja eksekutif kok legislatif yang nge klaim, emang punya mereka, wis memang ora waras tenan..., yang nggaji mereka kerja itu partai opo piye, wong partai aja ngemis ke para eksekutor itu.. jyan kenthir...

tapi yang lucu yang ngeklaim pahlaawan nasional itu, kayaknya jenggotan tapi ternyata nggak pake celana dalam... huahahahaua....

mercuryfalling mengatakan...

partai yg sedang naek daun itu PKS ya ? hihihi momennya tepat pulak ya ama israel-hamas

The Bitch mengatakan...

weh! Mercury Falling itu one of my favorite albums selain Remnant & Traces from the Years Worth Living, How to Dismantle an Atomic Bomb, See You on the Other Side dan Untouchables.

gada hubungannya ama posting ya? cuwek!

shaleh mengatakan...

Ada ga ya mengklaim kalo dia orang yang jujur dan bisa dipercaya biar saya ga golput nich.

wkakakak

Posting Komentar