Harga BBM dan Tarif Kos-kosan

Akhir tahun lalu, pedagang gado-gado langganan saya memasang pengumuman pada selembar kertas di gerobak dagangannya, demikian: “Mulai 1 Januari (2009), harga Gado-Gado naik menjadi Rp 7000.” Harga tersebut berarti naik Rp 1000 dari harga sebelumnya, yakni, Rp 6000.

Siang tadi (13 Januari 2008), saya bertanya kepada sang pedagang perihal kenaikan harga Gado-Gado yang ditetapkannya dengan penurunan harga bahan-bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah mulai 15 Januari 2009.

Ah, enggak pengaruh, Mas. (harga) BBM memang turun, tapi harga yang lain enggak turun, kayak angkot (biaya transportasi atau tarif angkutan umum) dan bahan kebutuhan pokok lainnya,” jawab si Abang—begitu saya biasa memanggilnya.

Saya memilih tak mendebatnya. Pasalnya, pada kenyataannya memanglah demikian. Biaya transportasi dan sebagian harga kebutuhan bahan pokok di pasaran juga belum mengalami penurunan (secara signifikan)—meski penurunan harga BBM baru dua hari lagi.

Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, misalnya. Ia masih bertahan dengan tarif lama. Alasannya, BBM hanya 1 komponen dari 12 komponen perhitungan tarif angkutan umum. Komponen lain yang menjadi pertimbangan adalah harga suku cadang.

Sederhananya (barangkali), Organda mau mengatakan bahwa jika pemerintah menggratiskan BBM pun, tarif angkutan umum tidak serta-merta turun atau bahkan gratis juga. Semua bergantung pada 12 komponen itu yang dua di antaranya adalah harga BBM dan harga suku cadang.

Konon, BBM berkontribusi 30-40 persen pada tarif angkutan. Pungli (pungutan liar) dan retribusi mencapai 15 persen. Sedangkan suku cadang sebesar 20-25 persen, belum termasuk suku cadang lain seperti ban.

Kalau pun harus turun, Organda menyatakan hanya bisa memperkirakan penurunan tarifnya sekira 5 persen. Lho, kok enak? Bukannya pemerintah memutuskan bahwa penurunan tarif angkutan sekitar 10 persen. 10 persen besaran penurunan tersebut juga berlaku untuk harga lainnya, seperti, daging sapi, minyak goreng, harga susu, dan obat-obatan.

Angka 10 persen itu, bagi saya, sebetulnya sudah merupakan angka yang sangat toleransi. Artinya, pemerintah pun tak ingin pengusaha jasa angkutan umum merugi akibat dituntut menurunkan tarifnya. Padahal, kalau dihitung-hitung, total penurunan harga premium sudah sebesar 25 persen. Harga premium per 15 Januari yang Rp 4.500 itu sudah kembali ke posisi harga sebelum Oktober 2005, yakni sebelum pemerintah menaikkan harga premium langsung ke Rp 6.000 per liter.

Dengan posisi harga baru premium, pemerintah telah menurunkan harga sebanyak dua kali, yakni dari Rp 6.000 per liter ke Rp 5.500 per liter pada 1 Desember 2008, dan kemudian diturunkan ke posisi Rp 5.000 per liter pada 15 Desember 2008, lalu terakhir menjadi Rp 4.500 pada 12 Januari 2009.

Sedangkan solar, penurunan harga kumulatifnya sejak 15 Desember 2008 telah mencapai 18,2 persen. Harga solar yang sebelumnya Rp 4.800 turun menjadi Rp4.500 atau turun 18,2 persen sejak 1 Desember 2008.

Nah, kalau Organda masih bertahan dengan tarif lama atau tarif baru dengan besaran penurunan maksimum 5 persen, maka sangat keterlaluan. Sebab, dalam dua kali (1 Desember 2008 dan 15 Desember 2008) penurunan harga BBM, Organda sama sekali tak melalukan hal serupa pada tarif angkutan umumnya.

Jangan menuntut masyarakat dapat memahami harga suku cadang yang saat ini entah naik, turun atau tetap. Sebab, Organda diam saja saat pemerintah dua kali (tiga kali saat 15 Januari nanti) menurunkan harga BBM. Hal yang ingin diketahui masyarakat adalah jika harga BBM turun, maka tarif angkutan umum pun turun.

Masyarakat hanya perlu tahu bahwa penurunan harga BBM (misal) sebesar Rp 500, akan diikuti penurunan tarif angkutan umum Rp 500 pula. Dengan demikian, dapat dipastikan pula bahwa harga beras, gula pasir, terigu, minyak goreng curah, daging sapi, susu, tomat, wortel, kentang, dan sayur-mayur lainnya serta harga obat-obatan, ikut turun juga. Termasuk di antaranya, saya juga bisa memastikan bahwa tarif sewa kamar kos (kos-kosan) per bulannya ikut turun, atau setidaknya tidak naiklah.

37 Response to "Harga BBM dan Tarif Kos-kosan"

munawar am mengatakan...

aku gak paham maksud sesungguhnya dengan penurunan BBM yang tidak disertai dengan regulasi tentang harga-harga kebutuhan lainnya...

nita mengatakan...

suku cadang itu lokal atau impor? kalau suku cadang kebanyakan impor (dlm dollar) memang bisa aja organda beralasan spt itu. jadi meski harga BBM turun, kalo rupiah melemah thd dollar tetap perlu biaya cukup besar utk penyediaan suku cadang yg udah pasti dibebankan pd tarif penumpang

pungli yg udah akut itu seharusnya jadi prioritas pertama utk diberantas pemerintah. punglinya ada 2 kan: yg non-seragam dan berseragam...qiqiqi

nirmana mengatakan...

come, read, leave comment and follow this blog.
eniwei, Total backlink Report for your site is 425, check it

budiono darsono mengatakan...

kita ini hidup dalam lingkungan yang sangat tidak efisien. Harga harga yang kita bayar lebih tinggi dari semestinya. korupsi ongkos yang kelewaTt bayar dan itu rakyat yang harus menanggung. kapan ya kita bebas korupsi!!!

cookies mengatakan...

apapun itu, semoga krisis ekonomi cepat berlalu

kw mengatakan...

jadi konsumen yang tetap dikorbankan?
:(

srex aswinto mengatakan...

Mekanisme pasar akan bekerja kok...biar aja organda bersikeras tidak menurunkan tarif angkutan...masyarakat akan semakin banyak beralih ke kendaraan pribadi...wong bensin sekarang lebih terjangkau harganya.Akibatnya kalau tarif angkutan umum tidak ikut turun ,,,ya mereka akan kehilangan penumpang juga.....tau rasa ntar mereka!!
Mekanisme pasar itu sudah teruji validitas, reabilitas dan sensitifitasnya...gak lama lagi akan bekerja itu mekanisme.

Seno mengatakan...

Wah, kalo tanggal 15 Jan ini BBM turun lagi dan ongkos angkot g turun juga, itu mah kebangeten.

itempoeti mengatakan...

Menaikan harga BBM ala SBY :
US$. 70.00/barel dari Rp. 2.500 menjadi Rp. 4.500
US$ 125.00/barel dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000
US$. 45.00/barel dari Rp. 6.000 menjadi Rp. 4.500

Inikah yang dimaksud dengan turun oleh SBY ???

suryaden mengatakan...

Wah harga kopi bungkusan juga belum turun nih...
orang sekarang memang takut miskin, karena ketakutan itulah maka pengin menimbun kekayaan sebanyak-banyaknya, alasan apapun untuk mengurangi laba yang didapat akan ditolaknya...
sambil minum kopi kental... mari kita lihat keculasan-keculasan selanjutnya..., semoga dengan fenomena baru ini masyarakat bisa menemukan kopingnya dengan bijaksana...

mercuryfalling mengatakan...

jah..kalo BBM naek, cepat deh dia naekkin harga. giliran turun, suku cadanglah, inilah itulah jd pertimbangan

wirati mengatakan...

kalau BBM juga turun barang tetap naik tuh, gmana dong>>>>

tukyman mengatakan...

habis posting, bosen bingung gak ada gawean akhirnya gua keluyuran ke blogmu lah

shaleh mengatakan...

BBM turun selalu ada alasan bagi organda untuk tidak turunkan tarif tapi ketika BBM naik maka tanpa perlu diperintah maka ramai2 secara sepihak naikkan harga angkot.

cape dech

yudhiapr mengatakan...

kalo udah naek, ngapain juga turun ? :D

isnuansa mengatakan...

"Penurunan" harga BBM sesungguhnya bukan penurunan. Harganya masih diatas harga sebelum BBM dinaikkan... ;)

Nyante Aza Lae mengatakan...

q jg sedih bro..
prasaan harga rokok gak pernah turun..hikss

kiekie mengatakan...

seharusnya harga kos - kosan turun juga dg, masak waktu naek harga kos - kosan naek sekarang waktu turun gak mau ikut turun.

annosmile mengatakan...

BBM naik semua harga pada naik
BBM turun semua harga tidak ikut turun
seperti peribahasa
ringan sama dijinjing
berat kamu pikul sendiri
xixixi...

aRai mengatakan...

hampir sama dengan postinganku ... intinya kesadaran masyarakatnya sendiri ... terlalu goblokkah kita? atau terlalu serakah?

astrid savitri mengatakan...

Saya sih gak mau buru2 senang. Belajar dr pengalaman dan prejudis sy thdp pemerintah, bisa2 setelah pemilu harga bensinnya naik lagi.. bahkan konon harga turun naik itu cm akal2an aja dlm rangka kampanye, entahlah! sy menikmati aja harga bensin yg sekarang, sambil menunggu ia naik lagi, hiks!

tukyman mengatakan...

aku datang membawa tongkat, tongkat ini bukan sembarang tongkat kalau gak ngasi koment keblogmu bisa gawat

lintang mengatakan...

saya menanggapi penurunan bbm gak terlalu senang karena bahan kebutuhan pokok masih tetap tinggi jadi kalau kebutuhan pokok harganya pada turun baru dech senang...he...he

Perspektif Senja mengatakan...

Wah, gak ada pengaruhnya toh...

Banyak muatan politis dibalik turunnya harga BBM...

Ifoel mengatakan...

Setuju ma Persfektif Senja..
Ditambahkan banyak juga unsur kepentingannya...
owalah.. aku ngga menyebutkan org perorangnya ya..? heheheh

antown mengatakan...

serius punya langganan gado2?? gak tahu ngajak saya ya? hehee... enak ora? aku malah pingin tahu campur sama rujak cingur surabaya.

Senoaji mengatakan...

lowker CPNS kemarin, turunnya BBM sekarang, Program PNPM, dan dibekuknya alia pohan cs oleh KPK, adalah kampanye efektif menyambut pemilu 2009. crettt lah buat politikus Indonesia

tabiek
senoaji

gerrilya mengatakan...

udah begitu, nilai pelayanannya dari dulu nggak meningkat-meningkat pula...paling nggak dengan naiknya tarif, kualitas pelayanannya juga ditingkatkan.

Jafar mengatakan...

"Harga premium per 15 Januari yang Rp 4.500 itu sudah kembali ke posisi harga sebelum Oktober 2005, yakni sebelum pemerintah menaikkan harga premium langsung ke Rp 6.000 per liter."

Apa ga keliru Oktober 2005? kalo ga salah Oktober 2008 yang mulai naik dari 4500 ke 6000. Kalau ga salah sih. :D

else mengatakan...

ada banyak hal dibelakang turun nya BBM, alasan politis yang kental.
harga bawang pipilan, wortel tanpa daun, kol bulat, dan kentang blom turun juga.
(niruin info harga sayuran di pasar di RRI)

norjik mengatakan...

ky nya rakyat kita ini kegolong mau menangnya sendiri. Jaman "isu" kenaikan BBM (baru ISU lho) .. bbrp hrga sdh mulai di naikkan ? pdhl wkt itu hrga suku cadang kendaraan stabil ?. Nah, skg giliran BBM sdh turun .. msh aja menyalahkan 'rantai' yg laen. Tukang sayur nyalahkan angkutan, angkutan nyalahkan spare part ?. Itulah, dmn2 yg enak itu adalah "Kenaikan Pendapatan/Pemasukan" tp kl Penurunan ..."Nanti2 ajalah...".

sandy mengatakan...

saya jarang naik angkot euy,saya jug ngak ngekos,tapi temen sekolah ane banyak yang ngekos,semoga tarif angkot juga turun dehh..

nirmana mengatakan...

pertanyannya sekarang, kanapa hal itu sering terjadi *penurunan BBM* tidak dibarengi penurunan harga2 lainnnya?

siapakah sebetulnya yg tidak PRO rakyat kecil? pemerintah atau pihak lain??? atau....

renimaldini mengatakan...

Mas Arief Gado-Gado nya enak gak???
Salam buat mas gado-gado langganannya...
Kalo di Padang, hingga kemarin angkot dan makanan gak turun-turun juga..
Tukang bakso langganannya saya juga gak nurunin harganya...
Katanya, "nanggung diturunin, ntar naik lagi, "begitu katanya.

Harry Seenthings mengatakan...

met malam kang aku mampir untuk absen malam ini

escoret mengatakan...

inget janji saya....klo saya jadi presiden...
sampeyan mau minta mentri apa..???

biar urusan BBM selsai

kakakina mengatakan...

rif, bukan cuma tukang gado-gado dan ibu kos aja yang begitu, tukang soto dan tukang mie ayam juga...halah. malah dia bilang, nanti habis pemilu pasti naik lagi.

Posting Komentar